Sabtu, 25 Januari 2014

Perbaikan Infrastruktur Jalan, Menunggu Cuaca Cerah

Infrastruktur Jalan Kota Rusak
PEKALONGAN – Banjir yang merendam Kota Pekalongan selama beberapa hari menyebabkan infrastruktur jalan rusak. Perbaikan terhadap jalan-jalan tersebut tidak dapat dilakukan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dalam waktu cepat karena pihak terkait menunggu cuaca cerah.
DPU tidak bisa langsung melakukan perbaikan karena cuaca masih belum memungkinkan,” jelas Kabid Marga DPU Kota Pekalongan, Bambang Sugiarto. Menurutnya, apabila dipaksakan dilakukan penambalan maka hasilnya tidak baik. Sebab aspal membutuhkan panas matahari untuk bisa merekat dan membentuk lapisan.
Sejauh ini, Bina Marga baru melakukan pendataan terhadap jalan-jalan yang rusak serta mengamankan lubang – lubang jalan. Lubang jalan yang membahayakan, lanjutnya, dipasang rambu-rambu peringatan agar pengguna jalan waspada dan tidak terjerembab. Sementara itu, jalan-jalan yang dilaporkan rusak akibat banjir ini antara lain Jl KI Mangun Sarkoro dan Jl Urip Sumoharjo.
Anggaran Pemeliharaan
Namun demikian tidak menutup kemungkinan masih ada jalan-jalan lainnya yang rusak karena pendataan belum selesai dilaksanakan. Dikatakan lebih lanjut, untuk mengatasi jalan yang rusak, DPU sudah memiliki anggaran melalui pemeliharaan jalan.
Untuk peningkatan jalan akan dilakukan, tapi waktunya masih lama karena harus melalui APBD 2014,” imbuh Bambang. Sejumlah warga mengeluhkan kerusakan jalan tersebut. “Selain membahayakan juga mengganggu perjalanan, kami harus memperlambat kendaraan yang berarti waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama,” tutur Hasan warga Kelurahan Poncol. (K40-74)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 21-01-2014)
 

Tim Medis Khusus Dinkes Keliling Daerah Terendam Banjir

Dinkes Turunkan Tim Medis Keliling, Bantu Korban Banjir

PEKALONGAN – Banjir yang melanda Kota Pekalongan menimbulkan kerawanan timbulnya penyakit bagi warga, seperti diare, gatal-gatal dan infeksi saluran pernapasan (ISPA). Guna meminimalisasi serangan penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) menurunkan tim medis khusus yang berkeliling ke beberapa lokasi, khususnya ke daerah yang terendam banjir.
Tim ini akan membantu korban banjir yang kesehatannya terganggu.” kata Kepala Dinkes Kota Pekalongan, dokter Dwi Heri Wibawa. 
Bantuan yang diberikan yaitu pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat-obatan gratis. Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan karena korban banjir tidak sempat berobat ke puskesmas sedangkan warga yang akses rumahnya kebanjiran, dapat menunggu kedatangan tim medis untuk memeriksakan kesehatannya. “Mereka membutuhkan pemeriksaan karena warga rawan terkena penyakit,” imbuh Dwi Heri.
Lebih lanjut dia menjelaskan, selama banjir, warga juga perlu melakukan antisipasi supaya tidak terkena penyakit, seperti mengkonsumsi air minum bersih.
Obat Gratis
Warga juga diimbau agar tidak sering terkena air genangan untuk menghindari penyakit gatal-gatal. “Ketika sering terkena air banjir, warga tidak merasakan apa-apa atau hanya gatal-gatal biasa. Tapi lama kelamaan penyakit itu semakin menjadi dan menjalar hingga ke tubuh,” ujar Dwi Heri.
Seandainya ada tanda-tanda terkena penyakit itu, warga diminta segera mengoleskan salep khusus ke tubuh yang gatal. Kalau warga bingung mencari obat itu, bisa meminta ke puskesmas terdekat. “Kami sudah mneyediakan obat-obat untuk warga yang daerahnya terkena banjir, termasuk obat penyakti gatal.” katanya.
Saat musim hujan seperti sekarang, udara dirumah menjadi lembab. Karena itu, jika ada kesempatan warga diimbau untuk membuka seluruh jendela rumah guna mengurangi kelembaban. Kalau rumah dalam kondisi lembab, penghuninya dikhawatirkan terkena ISPA. (H4-74)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 21-01-2014)

Denda Rp 50 juta, Buang Sampah Sembarangan

Buang Sampah Sembarangan, Terancam Denda Rp 50 Juta

PEKALONGAN – Setiap orang dilarang membuang sampah tidak pada tempatnya dan dilarang membakar sampah. Bagi mereka yang melanggar larangan itu akan dikenai sanksi enam bulan penjara atau denda paling banyak Rp 50 juta. “Hal ini mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah,” papar Rochman, anggota tim operasi Yustisi Tertib Buang Sampah dari Polres Pekalongan Kota di depan pedagang asongan dalam operasi Yustisi Tertib Buang Sampah di Terminal Pekalongan, beberapa waktu lalu.
Pada kesempatan sama, tim gabungan Kantor Lingkungan Hidup (KLH), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polres Pekalongan Kota menggelar operasi Yustisi Tertib Buang Sampah di sejumlah lokasi, antara lain di Lapangan Mataram, Alun-alun Pekalongan dan Terminal Pekalongan. Di alun-alun Pekalongan, tim mendapati seorang warga bersama pasangannya, membuang puntung rokok sembarangan. Karena melanggar Perda Nomor 16 Tahun 2012, ia bersama pasangannya kemudian diamankan petugas. Namun karena masih di bawah umur, penanganannya tidak sampai dibawa ke pengadilan, tetapi hanya dibina.
Efek Jera
Sementara itu, di Terminal Pekalongan, tim memberikan peringatan kepada sopir dan kondektur bus agar tidak membuang sampah dari atas bus ke sembarang tempat. Tim juga menyodialisasikan larangan membuang sampah disembarang tempat kepada pedagang asongan yang biasa menjalankan makanan di Terminal Pekalongan.
Kasi Pengawasan dan Pengendalian Dampak Lingkungan KLH Kota Pekalongan, Erwan Kurniawan menjelaskan, operasi Yustisi Tertib Buang Sampah dilaksanakan untuk memberikan efek jera kepada warga yang masih sering membuang sampah sembarangan.
Dengan adanya operasi yusitisi ini, kami melakukan pembinaan kepada pelaku yang mebuang sampah sembarangan dan memberikannya sanki. Harapan kami, dengan adanya operasi yustisi ini, masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan dan tidak mmbakar sampah secara liar,” tandas Erwan. (K30-74)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 20-01-2014)

Dapur Umum Dan Posko Banjir di Pekalongan

Bantuan untuk Korban Banjir
PEMKOT Pekalongan sudah menetapkan kondisi darurat akibat banjir yang menerjang sejak tiga hari kemarin. Untuk memenuhi kebutuhan makan para pengungsi dan korban banjir lainnya di Kota Pekalongan, tim tanggap bencana yang dibentuk Pemkot bersama beberapa pihak, seperti Kodim 0710/Pekalongan, maupun para relawan, mendirikan dapur umum dan posko banjir. Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad menyatakan, sejumlah dapur umum sudah didirikan di beberapa titik. Antara lain, di Makodim 0710 Degayu, Krapyak Lor, Tirto,. Kandang Panjang, dan sejumlah titik lainnya.
Untuk dapur umum, sudah didirikan di beberapa lokasi. Satu diantaranya ada di Kodim. Lalu ada pula dua dapur umum di Jalan Kusuma Bangsa, antara lain dekat Taman Makam Pahlawan dan STAIN, lalu di Krapyak Lor, dan beberapa tempat lainnya,” ungkapnya, Minggu (19/1). disela-sela pemantauan korban banjir di Krapyak Lor, Pekalongan Utara, Masing-masing dapur umum itu, sudah mendistribusikan berbagai makanan matang ke para korban banjir. Seperti yang dilakukan dapur umum di Kodim. Menurut Basyir, dengan dibantu anggota TNI, berikut peralatan yang dimilikinya, maka dapur umum tersebut setiap hari bisa membagikan sekitar 4.000 nasi bungkus. “Dapur umum di Kodim itu bisa memasak dalam jumlah besar. Bisa didistribusikan 4.000 nasi bungkus,” ujarnya.
Selain dari dapur umum – dapur umum dan posko yang didirikan, bantuan nasi bungkus maupun makanan siap saji lainnya untuk korban banjir juga berasal dari para donatur perorangan, maupun dari sejumlah perusahaan dan instansi swasta di Kota Batik. Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Sri Ruminingsih menyatakan, bahwa sudah tak terhitung berapa bungkus nasi yang sudah didistribusikan ke korban banjir yang bersumber dari dapur umum di Kodim. Dia mencontohkan, untuk Sabtu malam kemarin, ada 900 nasi bungkus untuk penghuni Lapas Pekalongan.
Beberapa ratus bungkus lainnya, didistribusikan ke korban banjir di berbagai lokasi, seperti di Degayu, Pasirsari, Tiro, dan sebagainya. “Kita sebar ke lokasi-lokasi banjir, dan ke sejumlah titik pengungsian. Seperti Minggu siang ini, kita salurkan 450 nasi bungkus ke pengungsi di Masjid Al Karomah,” sebutnya.
Dandim 0710/Pekalongan Letkol Kav Wahyu Eko Purnomo, melalui Danramil Pekalongan Barat Kapten Arh Ahmad Wiyadi, menjelaskan bahwa Kodim mengerahkan belasan personelnya untuk membantu membuat makanan di dapur umum. “untuk kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti ini, kita sebagai prajurit TNI harus selalu siap turun tangan untuk memberikan bantuan,” tandasnya. (way)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 20-01-2014)
 

Muara sungai Meduri dan Bremi Segera Dinormalisasi

Dua Sungai Segera Dinormalisasi

PEKALONGAN – Muara sungai Meduri dan Bremi yang selama ini kerap memicu banjir di wilayah Kabupaten dan Kota Pekalongan segera dinormalisasi. Pemprov Jateng tengah menyiapkan anggaran Rp 8 miliar, untuk realisasi pengerukan ke dua sungai tersebut.
Dengan dikeruknya sungat tersebut, diharapkan mampu menangani persoalan banjir. Demikian disampaikan Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, saat mengunjungi korban banjir di Kota Pekalongan, (21/1). “Saya sudah langsung telepon ke Dinas PSDA Jateng. Ada anggaran Rp 8 miliar bantuan dari PABN 2014 untuk pengerukan Sungai Meduri dan Bremi. Adanya normalisasi tersebut, diharapkan mampu meminimalisasi banjir yang selama ini terjadi di Pekalongan,” terang Heru.
Dalam pelaksanaannya, kata dia, Pemkot dan Pemkab Pekalongan bersinergi dengan Pemprov. Pihaknya mengapresiasi Pemkot Pekalongan, yang telah dengan cepat dan tanggap, menangani bencana banjir hingga tidak sampai timbul korban jiwa.
Kami apresiasi, Pemkot bersama unsur Muspida telah bergerak cepat, sehingga penanganan darurat dapat dilakukan dengan baik,” tegasnya. Namun demikian, pihaknya menyrankan, dampak akibat banjir patut menjadi perhatian bersama. Dengan kondisi minim di pengungsian, warga rentan terserang penyakit. Penanganannya perlu dipikirkan secara berkelanjutan. “Semuanya harus kompak. Antara pemerintah, TNI/Polri maupun elemen lainnya bergotong royong membantu warga,” tuturnya.
Sebelum berkunjung ke pengungsian, Walikota M Basyir Ahmad memaparkan kondisi terakhir bencana banjir di Kota Pekalongan. Basyir Ahmad menyatakan, dari empat kecamatan di Kota Pekalongan, semuanya terkena banjir. Namun demikian, hingga saat ini, kondisi banjir sudah mulai surut. Warga yang terkena banjir sekitar 17.000 warga atau 30 persen dari jumlah penduduk Kota Pekalongan.
Pihaknya beberapa kali rapat koordinasi dengan Pemkab Pekalongan membahas penanganan Sungai Meduri. Baik Sungai Meduri maupun Bremi, menjadi salah satu pemicu banjir di kedua wilayah tersebut. “Maka, kami butuh peran serta dari Provinsi,” ujarnya. Heru Sudjatmoko didampingi M Basyir Ahmad dan Wakil Walikota Alf Arslan Djunaid, berkesempatan meninjau Lapas Klas IIA Pekalongan yang tergenang banjir. (H63-49)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 21-01-2014)

Pemerintah Polandia Jajaki Kerja Sama Perdagangan Batik Maupun Tekstil

Polandia Jajaki Kerja Sama Perdagangan Batik

PEKALONGAN – Pemerintah Polandia berencana melakukan kerja sama bidang perdagangan dan investasi, khususnya sektor batik maupun tekstil dengan Pemkot Pekalongan. Kota Pekalongan dinilai sebagai wilayah yang menarik untuk meningkatkan hubungan kerja sama di bidang tersebut. Kerja sama yang akan dijalin diharapkan tidak hanya antarpemerintah saja, tetapi juga melibatkan pelaku usaha dari Polandia dan Pekalongan.
Kunjungan kali ini untuk mendorong kerja sama di antara pengusaha Polandia dan Pekalongan. Baik di bidang perdagangan, investasi maupun potensi lainnya. Kunjungan ini sekaligus bentuk tindak lanjut kunjungan SBY ke Warsawa Polandia,” kata Romuald Morawski, Kepala Divisi Promosi Perdagangan dan Investasi, Kedutaan Besar Polandia di Indonesia, dalam pertemuan dengan Walikota Pekalongan, M Basyir Ahmad, di Setda Kota Pekalongan, baru-baru ini.
Morawski mencontohkan, di bidang pariwisata, berdasarkan data wisatawan Polandia yang berkunjung ke Indonesia rata-rata 10 ribu orang per tahun. Selain menjajaki bidang perdagangan, pihaknya juga mengaku tertarik dengan warisan budaya yang ada di Kota Pekalongan, khususnya batik.
Komoditas Unggulan
Romuald Morawski juga akan membagi pengalaman, kondisi batik di Kota Pekalongan. Warisan budaya tersebut bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan terutama dari Polandia untuk datang ke Pekalongan. Polandia sendiri, lanjut dia, memiliki pengalaman ratusan tahun dalam industri tekstil tradisional, di mana kain tradisional Polandia telah menjadi komoditas unggulan ekspor di Eropa sejak pertengahan abad ke-13.
Dalam kunjungannya ke Pekalongan, selain bertemu walikota, Morawski yang bermalam di hotel Horison Pekalongan di dampingi istrinya, berkunjung ke Museum Batik Pekalongan. Kemudian ke workshop Batik Bulan Gemilang di Jalan raya Pekalongan-Batang. Disana, Morawski tertarik dan terkesima melihat batik yang dipajang. Sementara itu, Presiden Direktur Batik bulan Gemilang. Wulan Utoyo menyatakan menyambut baik adanya penjajakan kerjasama tersebut. Pihaknya mengaku, batiknya juga kerap dikirim ke Polandia. (H63-69)
(SUMBER : SUARA MERDEKA, 23-01-2014)

Kota Pekalongan terendam banjir

Banjir Rendam Seluruh Kelurahan
17.000 KK Korban Banjir
KOTA - Sedikitnya 3.000 warga Kota Pekalongan, sejak Jumat (17/1) hingga Minggu (19/1) kemarin, terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat yang lebih aman. Itu dilakukan setelah rumah-rumah mereka terendam banjir sejak Jumat, dan hingga kemarin siang banjir belum juga surut. Semua kelurahan di Kota Pekalongan tak luput dari terjangan banjir. 
Sebagian besar warga korban banjir berada di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara. Wilayah ini tergolong paling parah terkena dampak banjir akibat hujan deras dan air sungai yang meluap. Antara lain di Kelurahan Pabean, Pekalongan Utara.
Banjir menggenang seluruh wilayah Pabean, dengan kedalaman hingga satu meter. Parahnya banjir di daerah ini, selain akibat hujan deras, juga karena meluapnya sungai Bremi. Informasi dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) setempat, ada sedikitnya lima lokasi untuk tempat pengungsian, seperti di MI, SD, dan beberapa tempat lainnya. 
Demikian pula yang terjadi di Kelurahan Degayu. Pemukiman warga di sisi sungai Kledung, sebagian besar terendam sejak Jumat. Kemudian, diperparah lagi dengan hujan deras yang mengguyur hingga Sabtu sore. Dusun Clumprit, terpantau menjadi salah satu wilayah terparah yang dilanda banjir di Degayu. 
Sedangkan di wilayah Krapyak Kidul hingga Krapyak Lor, hingga kemarin siang terpantau masih tergenang. Ketinggian air di sepanjang Jalan Jlamprang mencapai paha orang dewasa. Banjir di daerah tersebut, selain karena limpahan air dari hujan, air dari Sungai Pekalongan, juga luapan dari Banger Lama. Sebagian warga yang rumahnya terendam, mengungsi ke rumah sanak saudara mereka. Sebagian lagi memilih di Masjid Aulia, yang juga dijadikan posko banjir. 
Untuk wilayah Panjang Wetan, Kandang Panjang, dan Panjang Baru, genangan mencapai juga mencapai ketinggian 70 cm. Jalan Kusuma Bangsa kemarin masih terendam sekitar 50 cm. Banyak warga korban banjir yang mengungsi di Aula STAIN. Untuk membantu korban banjir di wilayah tersebut, Pemkot bersama TNI dari Kodim 0710, Tagana, PMI, dan relawan membuat posko di dekat Taman Makam Pahlawan. 
Walikota Pekalongan dr HM Basyir Ahmad mengatakan, seluruh kelurahan di Kota Batik tak luput dari terjangan banjir. "Semua kelurahan kena (banjir). Dari 70 ribu KK (kepala keluarga, red), yang kena 17 ribu. Sebagian besar di Pekalongan Utara. Ada juga sebagian di Barat dan Timur," katanya, Minggu (19/1).
Mengenai berapa banyak warganya yang mengungsi, pihaknya belum bisa menginventarisir jumlah pastinya. Sehari sebelumnya, katanya, terpantau ada sekitar seribu orang lebih. Tetapi kemudian jumlahnya bertambah, sampai 3.000-an orang. 
"Kita tidak bisa menginventarisir jumlah pastinya, karena lokasinya terpisah-pisah, banyak dari mereka yang mengungsinya di rumah sanak keluarga. Tapi kalau totalnya, semua ada 3.000-an orang. Sebagian besar ada di Pekalongan Utara, sebagian di Pekalongan Barat," ungkapnya. 
Evakuasi
Sementara itu, Sabtu (18/1) pagi hingga petang, warga sejumlah kelurahan di Kecamatan Pekalongan Barat yang rumahnya terendam banjir, berduyun-duyun mengungsi ke sejumlah lokasi. Banjir di wilayah ini, paling parah terpantau terjadi di Kelurahan Tirto. Banjir tersebut disebabkan meluapnya sungai Bremi, ditambah lagi dengan hujan deras yang mengguyur sejak Jumat malam hingga Sabtu sore. Banjir sampai sedada orang dewasa. 
Sejak Sabtu pagi, petugas Satpol PP Kota Pekalongan bersama para relawan, antara lain dari tim SAR Pekalongan Rescue, membantu proses evakuasi warga Tirto menggunakan sebuah perahu karet. Warga diungsikan ke balai kelurahan, sebagian mengungsi di gudang Pusri, dan sebagian lagi ke Masjid Al Karomah. Sedangkan banyak warga lainnya yang mengungsi secara mandiri, menggunakan rakit dari pohon pisang maupun bambu. 
Kasi Pengembangan Kapasitas Satpol PP yang ikut serta mengevakuasi warga, menuturkan proses evakuasi terhambat minimnya jumlah perahu karet. "Sejak pagi tadi, hanya ada satu perahu karet," tuturnya.

Sehingga, petugas dan tim SAR memutuskan untuk mengungsikan warga Tirto terlebih dulu. Baru kemudian, perahu karet dibawa ke Pasirsari untuk mengungsi korban banjir di sana. Di Pasirsari ini, ketinggian air mencapai dada orang dewasa. Ini diakibatkan, wilayah tersebut terkena luapan air dari Sungai Meduri dan Sungai Bremi. "Kita utamakan warga yang lansia, anak-anak, dan ibu-ibu yang kita ungsikan pakai perahu karet," tambahnya. 
Maka, meski hujan deras mengguyur hingga Sabtu sore, proses evakuasi terus berlangsung. Sebagian warga Pasirsari diungsikan ke Masjid Al Mustaqim, di Jalan Sutan Syahrir. Sebagian besar lainnya di Masjid Al Karomah. 
Maryanah (40), warga Jalan Sutan Syahrir, Pasirsari, menuturkan banjir kali ini merupakan yang terbesar. Belum pernah terjadi sebelumnya. "Sejak 40 tahun saya di sini, belum pernah kena banjir yang sebesar ini. Paling-paling biasanya cuma tergenang sedikit, nggak seperti sekarang ini," ungkapnya. 
Pengungsian
Hingga Sabtu sore, korban banjir yang mengungsi di beberapa lokasi seperti di Masjid Al Karomah, belum mendapatkan bantuan logistik dari Pemkot. Bantuan makanan sore itu hanya berasal dari sejumlah donatur dan relawan yang peduli. Sedangkan bantuan makanan dari Pemkot baru didistribusikan pada Sabtu malam, yang berasal dari dapur umum yang sudah didirikan.
Usman, salah seorang koordinator dapur umum di Masjid Al Karomah, menuturkan ada sedikitnya 600 warga korban banjir yang mengungsi di tempat tersebut. Mereka memadati lantai satu dan lantai dua. "Yang lantai dua sebagian besar untuk balita," katanya. 
Para pengungsi itu, sekitar 95 persen berasal dari Kelurahan Pasirsari, Tirto, dan sebagian lagi dari Karangjompo, Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. "Para pengungsi di sini butuh bantuan makanan, selimut, obat-obatan, yang bayi butuh susu," terangnya. 
Andi, salah seorang koordinator relawan, menuturkan sejumlah relawan bersama warga berinisiatif mendirikan dapur umum di Masjid Al Karomah, untuk membantu pemenuhan kebutuhan makanan bagi para pengungsi korban banjir. "Jangan sampai mereka terlambat mendapat pasokan makanan. Apalagi, sejak pagi tadi hingga siang ini mereka belum makan," ujarnya kemarin. 
Ani (25), warga Pasirsari RT 05 RW 03, juga ikut mengungsi di Masjid Al Karomah, bersama ibu dan dua anaknya yang masih bayi. Dia berharap, selain bantuan makanan, pemerintah juga memberikan bantuan susu formula untuk bayi. "Seperti untuk anak saya ini, dan beberapa pengungsi lain yang juga punya bayi. Sampai siang ini saya belum dapat bantuan susu bayi," ungkapnya kemarin siang. 
Camat Pekalongan Barat, Suyono, menyatakan ada 13 kelurahan di wilayahnya yang terdampak banjir. Sedangkan korban banjir mencapai 7.690 warga. Sebagian dari mereka sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman dari banjir. Pihaknya juga mengaku sudah menyalurkan sejumlah bantuan bahan makanan.
"Sampai tadi, kami sudah kirim 53 kardus mie instan untuk Tirto, lalu Pasirsari 30 kardus, Podosugih 30 kardus, dan Bumirejo 30 kardus. Kita juga membagikan lima tabung gas untuk kelurahan dan dana darurat tanggap bencana," ujarnya, Minggu (19/1). 
Selain bahan makanan, bantuan yang disalurkan juga berupa perlengkapan untuk bayi, yang berasal dari BNPB Provinsi Jateng. Namun, jumlahnya terbatas. "Misalnya, untuk pengungsi di Masjid Al Karomah ini, sementara kita kasih lima paket bantuan perlengkapan bayi dulu," ungkapnya.
sumber

Sabtu, 04 Januari 2014

Diterjang banjir

Intensitas hujan Tinggi, Banjir Mulai Menerjang

KOTA – Intensitas hujan yang mulai tinggi pada tiga hari terakhir, membuat beberapa kelurahan di wilayah Pekalongan Utara, dan Pekalongan Barat, kembali diterjang banjir sejak Selasa (31/12). banjir yang terjadi, berasal dari luapan sungai setempat akibat hujan deras ditambah air rob yang sudah rutin menggenangi wilayah tersebut. Di wilayah Pekalongan Utara, beberapa kelurahan yang tergenang. Diantaranya Kelurahan pabean, Bandengan, Panjang Baru, Kandang Panjang dan Pantaisari, Panjang Wetan. Sementara di wilayah Pekalongan Barat, tercatat Kelurahan Pasirsari yang memang sudah rutin terkena banjir kembali mengalami bencana serupa. Dari beberapa wilayah tersebut, terpantau air juga menggenangi ratusan rumah di wilayah yang tergenang cukup parah yaitu Pabean dan Bandengan.
Akibatnya, aktifitas masyarakat setempat juga mulai terganggu, sehingga mereka membutuhkan bantuan. Selain itu, genangan air banjir juga menghambat pasokan air bersih bagi warga. Sejak banjir menggenang, warga mulai sulit untuk mengakses air bersih karena sumber air di rumah mereka sudah tergenang air banjir. Munzilah (36), warga Kelurahan Pabean RT 03 RW 01 mengungkapkan, air yang memasuki rumahnya berkisar antara 10 hingga 30 sentimeter. Akibat kondisi tersebut, dirinya tidak bisa melakukan aktifitas dan bekerja seperti biasa. Hal itu juga berdampak pada penghasilannya sebagai buruh jahit menurun.
Untuk itu, dirinya berharap agar ada bantuan dari pemerintah setempat guna meringankan bebannya karena tidak bisa bekerja secara maksimal. “kami berharap ada bantuan dari pemerintah, agar bisa segera diberikan. Karena warga disni segera diberikan. Karena warga disini tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasa sehingga penghasilan kami menurun,” harapnya. Sejauh ini diakuinya belum ada bantuan yang diberikan dari pemerintah setempat. Memang sudah ada beberapa petugas dari kelurahan yang sudah turun untuk memantau kondisi warga, namun belum memberikan bantuan. Selain berupa makanan, warga setempat juga membutuhkan bantuan obat-obatan. Krena genangan air berpotensi menimbulkan beberapa penyakit bagi warga.
Sementara itu, Lurah Pasirsari, Maryoto mengatakan, bahwa banjir yang terjadi saat bersumber dari air sungai dan rob. Sementara untuk jumlah warga yang menjadi korban, Maryoto memperkirakan ada ratusan warga di wilayahnya yang terdampak akibat musibah tersebut, dan bertambah dari pada musibah serupa yang terjadi pada tahun lalu. Maryoto juga mengaku sudah melaporkan bencana banjir yang terjadi kepada Pemkot Pekalongan. “kami sudah melaporkan kejadian ini dan kondisi warga kami kepada Pemkot Pekalongan,” ucapnya. Di kota Pekalongan, memang terdapat 23 titik yang dipetakkan menjadi lokasi rawan banjir dan pasang air laut. Ke 23 titik tersebut, tersebar di seluruh wilayah. Namun didominasi di wilayah utara. Sementara mengenai penyebab, sebagian besar dikarenakan luapan air sungai saat intensitas mulai meninggi dan juga pasang air laut yang sering menimpa beberapa kelurahan di wilayah utara. (nul)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 02-01-2013)

Jamkesda Dianggarkan Rp 17 M

Belum Masuk JKN, Jamkesda Dianggarkan Rp 17 M

MASYARAKAT miskin yang masuk dalam Jamkesda, belum akan disertakan dalam JKN yang akan mulai diterapkan 1 Januari 2014 mendatang. Jamkesda memang akan diunifikasi ke JKN, namun baru akan dilakukan dua tahun setelah penerapan awal. Belum menyatunya Jamkesda ke JKN, membuat Pemkot Pekalongan tetap menganggarkan dana untuk pelayanan Jamkesda bagi masyarakat sebesar pelayanan Jamkesda bagi masyarakat sebesar Rp 17 miliar untuk tahun 2014. Demikian diungkapkan Walikota Pekalongan, dr HM Basyir Ahmad yang ditemui usai memberikan sambutan dalam Diskusi Kelompok Belajar Perkotaan (KBP) menyoal keberpihakan Pemkot terhadap masyarakat miskin dalam JKN yang digelar PNPM Kota Pekalongan dan PT Askes KC Pekalongan di ruang Amarta, selasa (30/12).
Walikota mengatakan, karena tidak masuk dalam JKN dalam penerapan awal, maka pelayanan Jamkesda akan di perluas. Anggaran yang di siapkan tersebut, akan digunakan untuk pelayanan kesehatan untuk 200 ribu warga yang masuk dalam Jamkesmas, dan Jamkesda. “Ada dua kriteria bantuan yang kami berikan, warga miskin sekali akan kami bantu total. Sementara warga yang tidak begitu miskin akan dibantu separuh,” terangnya.
Walikota juga mengatakan, jaminan kesehatan dari APBD juga tetap akan dilaksanakan meskipun sudah ada JKN. Nantinya, peserta yang masuk dalam JKN akan ditarik ke pesertaan Jamkesmad atau Jamkesdanya dan dialihkan kepada warga miskin lain yang belum mempunyai asuransi, maupun jaminan kesehatan. “Anggaran tersebut kami sediakan untuk 200 ribu warga miskin. Diantaranya 75 ribu yang ada di Jamkesmas, dan 125 ribu yang ada di Jamkesda. Kalau Jamkesda sudah masuk JKN, jaminan tersebut akan kami geser kepada warga lain yang belum recover,” bebernya lagi.
Basyir mengatakan, sistem JKN yang akan mulai diterapkan hari lagi itu sebagai satu sistem yang bagus dengan dasar gotong royong. Namun dikatakannya, sebagai program baru, maka pihaknya akan melakukan pengawalan dan evaluasi selama pelaksanaan JKN setiap bulannya. Sementara itu, Kabag Pemasaran PT Askes KC Pekalongan, Agustin Era P dalam paparannya menjelaskan, bahwa Jamkesda memang belum akan masuk dalam JKN tahap awal. Namun, unifikasinya akan dilakukan secara bertahap hingga pada tahun 2019 mendatang seluruhnya sudah menyatu dalam JKN.
Pada tahap awal, yang akan masuk dalam kepesertaan JKN adalah semua yang sudah masuk eksiting PT Askes seperti TNI/Polri dan PNS ditambah kepesertaan yang ada di Jamsostek dan Jamkesmas. Sementara untuk sistem iuran, juga dibagi dalam tiga sistem masing-masing PBI (Penerima Bantuan Iuran) yang iurannya dibayar pekerja dan pemberi kerja, serta Pekerja Bukan Penerima Upah yang iurannya dibayar oleh peserta yang bersangkutan. Dalam kegiatan tersebut, juga hadir narasumber dari Dinkes Kota Pekalongan yang memaparkan mengenai sistem pelayanan JKN, dan juga permasalahan kesehatan yang dapat dilayani dalam JKN. (nul)
(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 31-12-2013)