Senin, 29 Oktober 2012

Keracunan Jajan Saat Istirahat Sekolah

12 Siswa Keracunan

  • Diduga Disebabkan Makaroni Goreng
  • Siswa SDN 2 Pekiringanalit, Kajen
KAJEN - Sebanyak 12 siswa  SDN 2 Pekiringanalit yang ada di Desa Pekiringanalit, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan mengalami keracunan, Selasa pagi (23/10). Mereka diduga keracunan setelah memakan makaroni goreng, sejenis kerupuk yang dijajakan penjual keliling di sekolahnya.

Kepala Sekolah, SDN 2 Pekiringanalit, Sri Widada saat ditemui Radar di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen menjelaskan, saat itu dia tengah memimpin rapat membahas tentang persiapan kegiatan ulang tahun PGRI. Namun tiba-tiba dikagetkan dengan adanya laporan guru yang akan meminjam mobilnya untuk membawa siswa ke RSUD guna mendapatkan perawatan. Murid tersebut dikabarkan tengah keracunan makanan.

"Saya langsung cepat menuju ke sini, katanya sebelum keracunan anak-anak ketika istirahat membeli jajan makaroni goreng sama penjual keliling yang singgah ke sekolah," ungkapnya.



Menurutnya, sebanyak 12 siswanya yang keracunan makanan tersebut sebelumnya sempat dibawa ke ruang UKS oleh para guru, dan selanjutnya segera dilarikan ke RSUD Kajen guna mendapatkan pertolongan lebih lanjut. Setelah mendapat perawatan di rumah sakit, para siswa yang keracunan tersebut kondisinya berangsur-angsur mulai pulih.. Dan para siswa tersebut diantarnya bernama Misrokhul, M Rifki, Suci Rahayu, Laem Setia P, Gusna PM Firgiawan, febian K, Amelia, Ahmad Yohib dan Anisa.

"Saya belum tahu persis, apakah penjual jajanan itu yang biasa mangkal di sekolah, atau penjual keliling yang singgah di sekolah. Kalau penjual yang biasa di dalam sekolah selalu kita berikan arahan pembinaan dalam menjual makanan bagi siswa," ungkapnya.

Rifki, siswa kelas V yang merupakan salah satu korban menjelaskan, sewaktu istirahat pertama, sekitar pukul 9.30 WIB, dia bersama teman-temannya membeli makarani, yang sebungkusnya di jual Rp 500. Namun karena bau makanan ringan itu kurang sedap, akhirnya hanya empat butir makaroni yang dimakannya, sedangkan sisanya diberikan kepada temannya.

"Saya hanya makan empat butir, karena tidak enak saya kasihkan ke teman, perut terasa mual dan kepala pusing," katanya.

Hal yang sama dirasakan Mislahul Kharifah. Dia bersama teman sekelasnya memberi jajan makaroni di samping sekolah dan memakannya beramai-ramai. Namun selang beberapa jam kemudian perutnya mulas dan muntah-muntah, sehingga dilarikan ke ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) untuk mendapatkan perawatan.

"Selain mual, tenggorokan juga panas setelah makan makanan itu," ungkapnya yang didampingi orang tuanya.

Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pekalongan, Rissa Sumarstyanto yang tengah mengecek langsung ke lokasi menegaskan, bahwa telah seharusnya pihak sekolah menjaga kesehatan para penjaja makanan di lingkungan sekolahnya. Sehingga tidak akan terjadinya insiden keracunan masal. Hal itu dapat dilakukan dengan ketelitian kepala sekolah untuk mengawasi pedagang, sehingga akan diketahui dari siapa jajanan tersebut berasal.

"Kalau perlu di sekolahan itu ada ahli gizinya, paling tidak ada upaya kejelian pihak sekolah agar tidak teledor dalam menerima penjual jajanan di sekolah," tegasnya.

Sementara Kapolsek Kajen, AKP Zarkhonil menjelaskan, dengan terjadinya keracunan yang menimpa para siswa, pihaknya langsung mengamankan sampel jajanan yang diduga telah membuat keracunan. Dan saat ini makanan tersebut tengah di cek di laboratorium. (jun)  

 

Tidak ada komentar: