Senin, 08 Oktober 2012

Upacara Dan Napak Tilas

Pertempuran 3 Oktober, Gugurkan 35 Pejuang
BENDAN - Pertempuran bersejarah pernah terjadi di Kota Pekalongan antara para pejuang kemerdekaan melawan tentara jepang, dalam pertempuran tersebut 35 pejuang gugur dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Pertempuran tersebut kini dikenal dengan sebutan Pertempuran 3 Oktober dan untuk mengingatnya didirikan sebuah monumen.

Selain itu juga diperingati upacara dan napak tilas kegiatan ditempat tersebut, seperti yang terjadi pada Kamis (4/10), yang diikuti oleh segenap jajaran Pemkot Pekalongan, TNI, Polri, pelajar, Ormas dan ribuan warga turut hadir di acara tersebut.

Untuk lebih menghayati kenangan pertempuran 3 Oktober, ratusan pemuda berpartisipasi dalam aksi teatrikal pertempuran dan penurunan bendera Jepang. Berdasarkan pengamatan Radar Pekalongan, aksi teatrikal tersebut cukup mengesankan terutama dalam menghadirkan suasana perang dengan gelegar bunyi ledakan dan rentetan tembakan.



Diceritakan dalam aksi tetarikal tersebut, setelah diumumkannya kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945, tentara Jepang belum secara keseluruhan meninggalkan Indonesia karena di beberapa daerah mereka masih bertahan di markas-markas militer yang mereka bangun termasuk di Kota Pekalongan.

Berita kemerdekaan RI telah sampai di Kota Pekalongan dan kemudian ratusan pejuang kemerdekaan mendatangi markas Kempeitai di Jalan Pemuda atau yang sekarang menjadi Masjid As Syuhada, untuk melucuti senjata bala tentara Jepang yang masih tinggal disana.

Dalam tuntutannya, pihak pejuang kemerdekaan Indonesia dihadiri Mr Besar Mertokusumo (Residen Pekalongan), dr Sumbadji (Anggota Komite Nasional Indonesia) dan dr Ma'as (Kepala Rumah Sakit Kraton) menyampaikan kepada penjajah Jepang agar menyerahkan kekuasaan dengan damai dan secepatnya, menyerahkan senjata yang dipunyai secara keseluruhan dan memberikan jaminan kepada Jepang bahwa mereka akan dilindungi, diberlakukan dengan baik dan dikumpulkan menjadi satu di markas Keibetei.

Namun belum usai perundingan, tiga orang Pemuda Barisan Kereta Api yaitu Rahayu, Bismo dan Mumpuni nekad mencabut Bendera Jepang dan menggantinya dengan Merah Putih. Melihat hal itu terdengar letusan tembakan peringatan dari tentara Jepang yang tidak digubris ketiganya dan kemudian pecahlah pertempuran.

Tentara Jepang mulai meninggalkan Kota Pekalongan pada 7 Oktober 1945. Hal ini menjadikan Kota Pekalongan sebagai wilayah di Jawa Tengah dan Indonesia yang bebas untuk pertama kalinya dari pendudukan Jepang.

Walikota Pekalongan, dr HM Basyir Ahmad mengatakan bahwa nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme sangat tinggi  telah ditunjukkan dengan rasa pengorbanan yang besar khususnya yang terjadi pada Pertempuran 3 Oktober.

Diharapkan masyarakat bisa mengisi kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan dengan melakukan pembangunan secara lebih kreatif dan inovatif. "Pertempuran 3 Oktober bisa dikatakan sebuah penggambaran sifat patriotisme dan pengorbanan besar yang dilakukan masyarakat dalam meraih kemerdekaan. Dalam pertempuran ini 35 pejuang harus gugur," bebernya.

Usai upacara, acara dilanjutkan dengan sarasehan di Gedung Bakorwil yang berada di depan Monumen Juang. Sarasehan itu antara lain diisi dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh pelaku sejarah Pertempuran 3 Oktober untuk diberikan kepada generasi muda. (ap15)

 

Tidak ada komentar: