Kamis, 04 Oktober 2012

Talkshow Pekan Batik Nusantara (PBN) 2012

Batik Sumbang Pendapatan Eksport 700 Juta Us Dollar 
Pekalongan, Info Publik - Dari jumlah nilai 200 miliar US Dollar ekspor Indonesia yang ada saat ini, batik menyumbangkan 700 hingga 800 juta Us Dollar. ini adalah pertumbuhan yang luar biasa bahkan mencapai dua kali lipat dalam waktu singkat. Oleh karena itu, batik akan ditempatkan sebagai pusat perekonomian rakyat dengan berbasis 'Knowledge' dan 'Creatifity' (Intellectual Property Rights). 

Jadi terletak seberapa jauh kita memberikan penghargaan terhadap produk intelektual sebagai tumpuan hidup yang notabene berasal dari nilai pengetahuan.Karenanya alangkah lebih baik jika batik tidak dilihat dari segi ekonomi saja seperti nilai material dan lamanya pembuatan tetapi bisa dilihat dari segi budaya. Untuk itu, perlu adanya kreatifitas dan inovasi berupa pematangan promosi dan kualitas batik untuk membuat peningkatan nilai batik itu sendiri. Demikian disampaikan oleh Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Dr Ir Hatta Rajasa saat menghadiri kegiatan Talkshow Pekan Batik Nusantara (PBN) 2012 di ruang Amarta Setda Kota Pekalongan, Rabu (3/10) sore. 



Secara Universal, orang akan diukur dari seberapa besar tingkat kesejahteraan manusia bisa menaikkan dirinya dengan ukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Kerajinan batik jangan dilihat dari sisi ekonomi saja karena kain batik sebenarnya mempunyai kekuatan yang luar biasa. "Saya yakin batik mempunyai kekuatan 'The Power Of Culture' dan kekuatan kreatifitas sehingga tidak semua orang mampu membuat batik. Siapa yang akan menghargai itu? Kalau kita sudah menempatkan penghargaan terhadap produk kreatifitas itu maka kita bisa melipattigakan sumbangan batik terhadap eksport," terangnya. 

Batik merupakan kekuatan bangsa Indonesia yang tidak bisa tergantikan di tempat lain. Ini merupakan 'Traditional Knowledge' yang sulit ditransfer ke tempat lain kecuali perajin batik tersebut dicuri kemudian dibawa kesana. Tantangan dan bahayanya sama dengan pertanian, apabila batik tidak bisa memberikan jaminan hidup yang lebih baik maka generasi berikutnya tidak akan menjadi pembatik. "Oleh sebab itu, menurut saya di Kampung Batik sudah seharusnya terjadi 'Transfer knowledge' tapi juga bisa menjadi kekuatan ekonomi yang bisa mensejahterakan para perajin," tuturnya. 

Goresan tangan pada kain batik yang dibuat para perajin akan menghasilkan produk yang mempunyai kekuatan yang andal karena goresan itu mempunyai makna pesan dan rasa sesuatu hal pada diri manusia. "Percaya dengan saya, sang penjual batik belum memasukkan untung unsur kreatifiti dan inovasinya. Kalau kita belajar proses dan mengerti, bayangkan seorang perajin ketika duduk dengan kain yang polos dan canting yang menggoreskan itu, berapa harga seluruh energi yang dikerahkannya untuk sebuah kreasi yang memakan waktu berbulan-bulan itu," katanya. 

Setiap daerah mempunyai corak dan potensi kekhasan budaya masing-masing, misalnya Kota Pekalongan mengandalkan kerajinan batik. "Sejumlah daerah memang bisa meniru dan membuat kerajinan batik. Akan tetapi produk batik yang dihasilkan akan berbeda, seperti batik motif Jlamprang yang merupakan ciri khas Kota Pekalongan, tidak akan sama dengan produk daerah lain," tambahnya. 

Masyarakat juga diajak untuk menjaga batik sebagai warisan tak benda karena tidak semua orang bisa membuat batik. Oleh karena itu, ketika masyarakat punya uang banyak maka disarankan untuk tidak menawar harga batik yang dijual perajin batik. "Jadi, tidak hanya sekedar mencintai dan beli batik tetapi harus mencoba membeli tanpa menawar. Hal itu sekaligus sebagai upaya menghargai para perajin batik untuk semua proses yang telah dilaluinya," sarannya. 

Acara Talkshow itu menghadirkan pembicara seperti Penggiat LSM sekaligus mantan menteri Koperasi Adi Sasono, Deputi Industri dan Perdagangan Kemenko Perekonomian Edi Putra Irwandi, Dirjen IKM Kemenprin RI Euis Saedah, Dirjen HKI Prof Dr Ahmad M Ramli SH MH FCBArb, Redaktur Media Indonesia Sugeng Suparwoto dan Perancang Busana Muslim Dian Pelangi. 

Dalam acara Talkshow tersebut, Euis Saedah menyampaikan tentang kebijakan pemerintah dalam memperkuat posisi tawar batik dan identitas karya seni asli melalui batikmark. 

Sasaran dalam penggunaan Batikmark yaitu memberikan proteksi batik terhadap negara lain, memudahkan konsumen mancanegara untuk lebih mengenali batik Indonesia dan mendukung promosi batik nasional di pasar Internasional. "Sedangkan tujuan dari Batikmark untuk memberikan jaminan mutu batik Indonesia sehingga bisa meningkatkan kepercayaan konsumen baik dalam maupun luar negeri terhadap mutu batik. Ini juga sebagai upaya untuk memberi perlindungan hukum terhadap persaiangan tidak sehat dalam industri batik. Sekaligus untuk membentuk identitas batik Indonesia," urainya. (diskominfo/007)
Last Updated (Friday, 05 October 2012 02:25)


Tidak ada komentar: