Jumat, 23 Agustus 2013

BPPT kembangkan makanan khusus untuk penderita gizi buruk

Indonesia Siap Produksi Makanan Darurat untuk Korban Bencana 

KBRN, Jakarta : Melihat angka gizi buruk di Indonesia yang masih tergolong tinggi, yaitu sekitar 10 persen, Pusat Teknologi Bioindustri, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mempersiapkan solusinya, yaitu membuat makanan khusus untuk penderita gizi buruk. Makanan bernutrisi ini berupa susu dan roti basah.
"Tahun 2014 sudah bisa dibuat. Saat ini masih prototipe pangan gizi buruk," ujar Galih Kusuma Aji, seorang perekayasa di BPPT.
Ia menjelaskan hal itu di sela-sela Pameran Teknologi BPPT di Jakarta, Rabu (21/082013).

Lebih lanjut, Galih mengatakan, asupan gizi buruk itu diposisikan melanjutkan penanganan gizi buruk selepas penanganan dari Puskesmas.

"Umumnya penanganan gizi buruk di Puskesmas hanya tiga minggu saja. Setelah itu tak diawasi. Nah makanan ini bersifat pelengkap makanan utama," jelasnya.

Ia menegaskan, kandungan gizi makanan khusus ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan gizi buruk sesuai standar. "Secara gizi memenuhi. Untuk gizi buruk kalori dan lemak harus seimbang sesuai anjuran Kemenkes," kata Galih.
Dalam roti dan susu itu, terdapat senyawa peptida bioaktif dari kedelai. Peptida itu berisi fragmen pecahan protein. Fungsi peptida ini bantu mengikat kalsium dan meningkatkan kalsium di usus.
Biskuit DaruratPusat teknologi itu sebelumnya sudah berhasil mengembangkan biskuit khusus bagi korban bencana alam. Biskuit yang dinamai Bisku Neo atau kepanjangan biskuit bernutrisi lengkap, berenergi tinggi dan buatan Indonesia itu menjaga asupan gizi bagi korban bencana.
"Energi total Bisku Neo yakni 480 KKal, itu setara dengan sekali maka dan bisa bertahan dari lapar 4-5 jam," jelasnya.
Bisku Neo sudah dipasok bagi msa darurat yait dalam masa tanggap darurat bencana.
"Saat ini kami sedang kembangkan makanan untuk militer dan untuk gizi buruk," jelasnya.

Pihak BPPT tidak mendistribusikan biskuit itu untuk kalangan umum. Secara luas. Pasalnya makanan itu hanya untuk masa darurat, seperti bencana.
"Kalau stok kami masih ada, itupun kita jual untuk kalangan tertemtu, misalnya yang sedang survival di alam," ujarnya.

Harga per bungkusnya cukup murah, yakni di kisaran Rp 5 - 6 ribu. Bisku Neo sudah dipasarkan sejak 2012 dan telah dipatenkan. (Heri.F/HF)
sumber

Tidak ada komentar: