Rabu, 28 Agustus 2013

Krisis ekonomi global dikhawatirkan melanda Indonesia

Akankah Krisis 2008 Terulang?

Jakarta - Bukan kali pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi. Hal yang sama pernah terjadi pada 2008-2009 lalu. Saat itu pasar modal dan rupiah juga terpuruk gara-gara situasi perekonomian di Amerika Serikat.

Ledakan gelembung properti di negeri Paman Sam itu menyebabkan perbankan dan lembaga keuangan menanggung kerugian gila-gilaan. Banyak lembaga keuangan yang harus diselamatkan pemerintah. Bahkan institusi sebesar Lehman Brothers yang sudah berdiri ratusan tahun harus ditutup.

Dari Amerika krisis itu merambat dunia, termasuk Indonesia. Di negeri ini dampaknya terasa cukup hebat. Dana asing keluar secara masif sehingga menyebabkan koreksi yang dalam pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

IHSG yang ketika itu sempat berada di level 2.800 terjun hingga mencapai titik terendah 1.089. Koreksi yang terus terjadi membuat perdagangan di pasar modal sempat dihentikan selama dua hari.

Untuk mengurangi dampak perlambatan ekonomi, pemerintah merilis kebijakan stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 triliun pada 2009. Stimulus tersebut berupa penghematan pembayaran pajak penghasilan (PPh), subsidi pajak ditanggung pemerintah, penurunan harga solar, diskon tarif listrik untuk industri, dan pembangunan infrastruktur.

Serupakah kondisi 2008-2009 dengan situasi akhir-akhir ini? IHSG juga terkoreksi dan rupiah terpuruk. Bambang Brodjonegoro, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan membantah. “Kondisi 2008 penurunannya lebih banyak. Sekarang kita belum pada level sebesar 2008, belum ke arah sana,” katanya kemarin.

Tapi Menteri Keuangan Chatib Basri sudah meminta semua pihak untuk waspada. “Saya tidak pernah mengatakan bahwa situasi global itu tidak berbahaya. Bukan berarti yang aman itu tidak terjadi apa-apa dalam perekonomian,” katanya.

Chatib menyebutkan setidaknya ada tiga hal yang perlu dicermati. Pertama, adalah kepastian kebijakan stimulus moneter di AS. Kedua, defisit transaksi berjalan Indonesia yang terus terjadi. Ketiga, potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Harry Su, Kepala Ekuitas dan Riset Bahana Securities, menilai meski koreksi IHSG maupun rupiah belum separah 2008, tetapi gejolak dan fluktuasi yang terjadi begitu cepat mirip dengan kondisi saat itu. “Agak mirip 2008-2009, dalam arti sudah mulai bergejolak," ujarnya.

Namun, Harry memperkirakan gejolak yang terjadi saat ini hanya bersifat jangka pendek. Dia optimistis nantinya investor asing akan kembali masuk ke pasar modal Indonesia sehingga menjadi katalis penguatan IHSG dan nilai tukar rupiah.

Harry menilai ekonomi global yang diperkirakan membaik pada semester kedua tahun ini bisa memperbaiki kinerja ekspor Indonesia. “Kami tetap optimistis,” katanya.
sumber

Tidak ada komentar: