Rabu, 28 Agustus 2013

Pengrajin batik di Kota Pekalongan makin kelimpungan

Bahan Baku Naik, Pengrajin Batik Kelimpungan 

MELEMAHNYA nilai mata tukar rupiah terhadap Dollar AMerika yang saat ini menembus Rp 11.000, berimbas pula pada melonjaknya bahan baku pembuatan kain batik. Hal ini menyebabkan para pengrajin batik di Kota Pekalongan makin kelimpungan. Seperti yang disampaikan Sodikin HS, salah seorang pengrajin batik di Kelurahan Pasirsari, Pekalongan Barat. Ia mengungkapkan, harga bahan dasar untuk membuat batik yang mengalami kenaikan diantaranya adalah kain mori, lilin batik, serta gondorukem.

Sebelumnya, harga bahan baku batik tersebut sudah naik. Kini, harganya semakin melonjak lagi. "Harga kain mori sudah naik sejak Idul Fitri kemarin. Dalam waktu dua hari terakhir ini, harganya terus naik, seiring dengan turunnya nilai tukar rupiah terhadap dollar," katanya, Senin (26/8). Pria yang juga menjadi Ketua Paguyuban Batik Serba Pass ini menuturkan, harga kain mori saat ini mencapai Rp 8.400 per yard, atau sekitar 0,91 meter, dari yang sebelumnya di kisaran Rp 7.500. "Harga kain mori semakin mahal. Dalam beberapa dari ini naiknya sekitar Rp 1.000 per yard," ungkapnya. 

Selain itu, kenaikan juga terjadi untuk harga gondorukem. Dari yang semula Rp. 22.500 per kilogram, kini naik menjadi Rp 23.500 per kilogram. Dengan adanya kenaikan bahan baku batik itu, maka ongkos produksi semakin tinggi. Dikhawatirkan, jika kenaikan bahan baku terus terjadi, para pengrajin batik banyak yang akan kesulitan melayani pesanan. "Kenaikan bahan baku ini semakin menyulitkan para pengrajin batik masih lesu," imbuhnya.

Senada diungkapkan pengrajin batik lainnya, Harris Riadi. pemilik usaha batik 'Green Batik' ini mengatakan tidak stabilnya bahan baku akhir-akhir ini sangat menyulitkan para pengrajin batik. "Harganya tidak stabil, tiap hari berubah dan cenderung naik. Gimana mau mulai kalau seperti ini terus. Kasihan para pekerja. Saya sendiri sementara ini masih produksinya batik yang pakai kertas semen, ini untuk menyambung hidup para pekerja," ungkapnya.

Ia mencontohkan, kenaikan harga yang sangat dirasakan terjadi untuk kain mori. Kenaikannya rata-rata sekitar Rp 500 per yard. "Per hari ini (kemarin,red) saja, kain jenis primisima sudah mencapai Rp 11.600 per yard," terangnya. Begitupun dengan harga lilin batik, gondorukem, hingga obat batik. "Misal, per kilo yang tadinya Rp 9 ribu, naik jadi Rp 10 ribu. Kenaikannya beda-beda, tergantung jenisnya. Sedangkan obat batik naik sekitar 10 persen dari harga sebelumnya. Kondisi seperti ini pasti akan menyulitkan para pengrajin batik, terutama yang menengak ke bawah," jelasnya.

Harris mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku batik sudah dirasakan sejak adanya kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi beberapa waktu lalu. "Setelah harga BBM naik, kita dihantam dengan naiknya bahan baku batik. Sekarang nilai Dollar naik, akibatnya harga bahan baku batik tambah lagi," imbuhnya. Ditambahkan, saat ini penjualan batik masih cenderung lesu. "Pasca Lebaran, pasca kenaikan harga BBM, terus sekarang nilai tukar rupiah melemah, ini makin menyusahkan kita. Nggak tahu kapan harga bahan baku akan stabil dan penjualan batik meningkat lagi. Apalagi sebentar lagi menjelang pemilu, yang pastinya akan memengaruhi angka penjualan Batik," pngkasnya. (way)

(SUMBER : RADAR PEKALONGAN, 27-08-2013)

 

Tidak ada komentar: