Senin, 28 Mei 2012

Tetap Lestarikan pengajian Sorongan dan Bandungan

  • Satu Abad ponpes Rabatul Muta'allimin

PONDOK pesantren Ribatul muta'allimin Landungsari atau dikenal sebagai Ponpes Grogolan sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya. Selain usianya sekarang sudah satu abad (berdiri tahun 1911), Ponpes yang didirikan oleh KH saelan (almarhum) itu kini berkembang pesat.

Awal pendirianya, menurut ketua yayasan Ribatul Mutaiallimin, saelani Machfudz yang di dampingi pengasuh Ponpes KH Sa'dullah Nachrowi LC, diawali banyaknya warga yang ingin berguru pada KH saelan. Itu dilakukan karena KH saelan sudah mengaji pada Kiai Chambali bin Kiai Khomsah (Landungsari) dan Habib Hasyim (Pekalongan). Beliau juga pernah nyantri di pacitan, Madura dan beberapa Pondok lainya.


Adanya keinginan warga itu, membuat KH Saelan menurutinya dengan menggaji di mushala kecil yang sederhana. Pengajian yang di lakukan pada waktu itu dengan cara sorongan (kiai menyimak santri yang membaca kitab kuning), dan cara bandungan (kiai membacakan kitab di hadapan para santri). Seiring dengan perkembangan zaman, ternyata jumlah santri yang menggaji terus bertambah.tahun 1928, atas bantuan H Abdussalam didirikankan pondok untuk menginap para santri.

Kini Ponpes itu berkembang cepat. Ponpes yang semula tradisional, kini berkembang yang semula tradisional, kini berkembang bukan hanya berupa pondok pesantren dengan pendidikan diniyah saja, namun juga mengembangkan sekolah Mts dan MA Ribatul Muta'allimin dengan siswa sekitar 600 anak.

Adapun jumlah santri yang mengaji di Ponpes itu, menurut dia, yang bermukim (menginap di ponpe sebanyak 260 anak). Kemudian yang hanya mengikuti mengaji diniyah termasuk warga sekitar mencapai 1200 anak serta yang sekolah di Mts dan MA 600 anak. Setelah itu, Ponpes diasuh oleh KH Nachrowi dan KH Hamid Yasin (wafat 1981) putra KH Saelan.KH Nachrowi Chasan adalah santri sekaligus menenti KH Saelan. (Trias Purwadi-86)

(SUMBER : SUARA MERDEKA 11-05-2012)

Tidak ada komentar: