Sabtu, 21 Desember 2013

Halaqoh Ulama NU dan Tokoh Masyarakat se-Eks Karesidenan Pekalongan

BUPATI BUKA HALAQOH ULAMA DAN TOMA SE-EKS KARISIDENAN PEKALONGAN

KAJEN - Halaqoh secara harfiah berarti diskusi bersama dengan duduk melingkar. Oleh karena itu dengan kegiatan semacam ini, Bupati Pekalongan berharap dapat menjadi penyejuk / pencerah / perekat berbagai anggota masyarakat dan membuat kita menyadari selaku pribadi dan umat Islam apa fungsi atau peran kita, bukan apa wewenang kita. Demikian sambutan Bupati Pekalongan Drs. H. Amat Antono, Msi dalam acara Halaqoh Ulama NU dan Tokoh Masyarakat se-Eks Karesidenan Pekalongan di Pondok Pesantren Nurul Huda Desa Simbangkulon Kecamatan Buaran (19/12/13).
Bupati melanjutkan penting bagi kita menyadari fungsi masing-masing karena kalau bicara fungsi diantara kita akan saling melengkapi, namun apabila hanya bicara kewenangan maka yang ada adalah arogansi. “Saya mengharapkan, adanya kegiatan ini seluruh masalah bisa didiskusikan, tidak menonjolkan kelompok, sehingga pada akhirnya bisa menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan pembangunan”, ujarnya.

Terkait tema yang diusung yaitu Peran Ulama terhadap Bahaya Liberalisme dan Radikalisme Beragama di Indonesia, Bupati menyampaikan bahaya liberal dan radikal tersebut harus kita sikapi bersama karena telah menyusup ke berbagai bidang seperti politik, ekonomi, budaya maupun agama. “Salah satu ciri radikalisme adalah selalu mengatakan orang lain salah, sering mengkafirkan teman sendiri. Padahal saat ini banyak acara dialog di TV yang isinya cuma menyalahkan orang lain. Ternyata radikalisme dan liberalisme tidak hanya di kantor, di jalan atau di rumah tetapi sudah sampai ke saku kita. Di saku kita selalu ada handphone/HP, ketika kita mau shalat, HP berbunyi, pasti kita angkat dulu, shalatnya yang ditunda. Ini fakta dan sepertinya hal sepele tetapi dari HP banyak informasi masuk tidak terkontrol. Apabila tidak saling mengingatkan dapat menjadi masalah di kemudian hari”, imbuhnya.

Sementara itu, H. Muhtasin Kasi Pontren Kanwil Kemenag. Propinsi Jateng mengatakan radika dan liberal itu saling berkebalikan. Intinya, kalau radikal itu semuanya serba dilarang seperti tahlil, manakib disebut bid’ah, namun kalau liberal apa-apa serba boleh. “Saat ini ada sebagian kelompok masyarakat di daerah-daerah yang sudah tidak mau menghormat kepada bendera, menyanyikan lagu Bagimu Negeri syairnya yang terakhir ‘jiwa raga kami’ diubah. Kelompok semacam ini bisa disebut radikal. NU sebagai organisasi keagamaan berusaha menjaga kemurnian Al-Qur’an dan Hadis. Oleh karena itu, sangat bagis sekali apabila antara aparatur pemerintahan dan NU dapat bersinergi. Aparatur pemeringtah tidak memiliki analisis argumentatif keagamaan, sedangkan NU punya analisis keagamaan tapi tidak memiliki data riil tentang orang mana, organisasi mana atau lembaga mana yang tidak mengakui NKRI, tidak menghormat bendera dan masih meragukan Pancasila”, jelas Muhtasin.

Ditambahkannya, pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran untuk operasional lembaga dan kegiatan keagamaan seperti pesantren, majlis taklim, madrasah diniyah dan sebagainya. “Program demi program akan bisa dilakukan dengan baik apabila ada dukungan dari para alim ulama, terutama umaro’ (pemerintah). Hal ini juga berfungsi menguatkan akidah keislaman yang pada gilirannya nanti akan bisa mengantisipasi bahaya radikalisme dan liberalisme”.

Drs. Muslich Chudori, Msi selaku pengasuh Ponpes Nurul Huda dalam kesempatan yang sama menyampaikan diselenggarakannya halaqoh ini berangkat dari keprihatinan bersama sebagai umat Islam karena banyak kelompok masyarakat yang notabene lahir, besar dan hidup di Indonesia namun kurang memiliki rasa nasionalisme dan tidak mengikuti kebijakan-kebijakan NKRI. “Yang lebih mengkhawatirkan, mereka tidak segan-segan mempengaruhi dan memaksakan pendapat kepada kelompok lain di luar mereka. Jadi saya harapkan melalui halaqoh semacam ini akan menghasilkan pencerahan baru berupa respon terhadap permasalahan ini. Hal ini juga sekaligus merupakan sedikit sumbangsih NU kepada bangsa”, ungkapnya. (rizka-didik)

 

Tidak ada komentar: