Sabtu, 08 Maret 2014

“Memberdayakan Guru dengan Teknologi” Revolusi Digital merevolusi cara belajar

Telepon Genggam Bisa Atasi Kesenjangan

JAKARTA, KOMPAS – Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi, terutama telepon genggam untuk mengtasi kesenjangan mutu pembelajaran terus di dorong. Namun, pemanfaatan perangkat berg erak itu membutuhkan pemberdayaan dalam menggunakannya. “Penggunaan telepon genggam untuk pembelajaran efektif dan murah. Saya membuat program pengiriman jawaban ujian siswa lewat telepon genggam. Selain hemat kertas dan cepat, hasilnya segera diketahui siswa,” kata Subiyanto, guru SMAN 3 Semarang, Minggu (2/3).
Di Indonesia, pada tahun 2013 terdapat 236,8 juta pengguna telepon genggam. Bahkan, Badan Intelejen Pusat Amerika Serikat (CIA) menyebut Indonesia sebagai negara dengan pengguna terbesar kelima setelah China, India, AS, dan Brasil. Oleh karena itu, UNESCO menyakini, telepon genggam dapat dikembangkan untuk pembelajaran inklusif dan bermutu. Kehadiran alat-alat teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak, seperti telepon genggam, yang didukung jaringan yang bagus berpotensi mengisi ruang kosong saat buku dan sekolah masih langka, terutama bagi anak-anak miskin atau yang tinggal di daerah pedalaman.
Iwan Pranoto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung, bersama Koalisi Reformasi Pendidikan mengatakan, dengan kondisi geografis Indonesia, percepatan menyamakan mutu pendidikan di semua daerah dapat dibantu TIK untuk pembelajaran. Semua pihak didorong segera membangun “awan belajar” memanfaatkan TIK. Yang tak kalah penting selain membangun infrastruktur TIK adalah membangun konten yang bisa diakses telepon seluler.
UNESCO serius membahas bagaimana perangkat bergerak itu memenuhi kebutuhan pendidik dan menolong mereka meningkatkan efektifitasnya, seperti pada Pekan Mobile Learning, pembahasan bertema “Memberdayakan Guru dengan Teknologi”. Selain itu, dibahas keamanan daring, isi materi daring ramah anak, dan soal pelatihan guru. Menurut Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova, alat komunikasi bergerak mengubah cara berkomunikasi, hidup, dan belajar. Semua pihak perlu di yakinkan, revolusi digital bisa merevolusi cara belajar, mempromosikan pendidikan inklusif, dan mendorong belajar yang lebih baik di mana pun dan kapan pun (ELN)
(SUMBER : KOMPAS, 03-03-2014)

Tidak ada komentar: