Sabtu, 15 Maret 2014

Parti Gelar Aksi Galang Dukungan Masyarakat Pekalongan

Tolak Relokasi, Parti Galang Dukungan

KOTA - Pedagang pasar tiban atau parti, kembali menggelar aksi untuk melawan keputusan Walikota yang berencana merelokasi pedagang. Kali ini, ratusan pedagang menggelar aksi damai, sekaligus menggalang dukungan dari masyarakat Kota Pekalongan di Monumen Juang, Kamis (13/3).

Penggalangan dukungan tersebut, dituangkan dalam bentuk pembubuhan tanda tangan oleh masyarakat pengguna jalan, sebagai simbol mendukung keberadaan pasar tiban.

Ketua Pasti Bersatu, Arifianto menjelaskan, aksi yang dilakukan para pedagang tersebut sebagai bentuk upaya para pedagang untuk meminta dukungan dari masyarakat. Selain itu, para pedagang juga ingin menunjukkan permasalahan yang sedang terjadi antara pasar tiban dengan Pemkot Pekalongan.

enurut Arifianto, selama ini masyarakat tidak mengetahui akar permasalahan yang terjadi antara pasar tiban dengan Pemkot yang membuat sejumlah titik pasar tiban tidak lagi buka. “Yang pertama, kami ingin menunjukkan bahwa pasar tiban masih diinginkan, masih dicintai masyarakat. Karena, dalam beberapa kali masyarakat justru dibenturkan dengan kami, saat adanya upaya relokasi. Walaupun kami tahu masyarakat itu adalah masyarakat bayaran,” tegasnya.

Sehingga dalam aksi kali ini pihaknya akan memperlihatkan kepada Walikota mengenai sikap masyarakat sebenarnya. “Kami akan masuk ke strategi Pak Wali yang melibatkan masyarakat setempat untuk dibenturkan dengan kami. Kali ini kami akan menunjukkan bahwa masyarakat setuju dengan keberadaan pasar tiban,” imbuhnya.

Pria berambut gondrong tersebut juga mengatakan, akan merencanakan aksi yang lebih besar lagi dengan jumlah massa yang jauh lebih banyak jika kebijakan yang dikeluarkan Pemkot tak juga mendukung keberadaan pasar tiban, dan tuntutan para pedagang tentang penolakan rencana relokasi tak kunjung dipenuhi oleh Pemkot Pekalongan.

Kegiatan serupa, dilanjutkan Arifianto juga akan dilaksanakan di beberapa titik lokasi pasar tiban. Pihaknya menargetkan, dapat mengumpulkan sebanyak 5000 tanda tangan dari masyarakat Kota Pekalongan.

Setelah terkumpul, Parti akan membuat sebuah petisi yang diajukan kepada Pemkot Pekalongan tentang perijinan pasar tiban.

*Akan Diadukan ke Aburizal Bakrie.

Selain petisi kepada Pemkot, parti akan membuat surat yang akan dikirim kepada Gubernur, Kemendagri, Presiden dan tak ketinggalan kepada Aburizal Bakrie (ARB). Surat kepada Gubernur maupun Presiden, ditujukan untuk mengadukan kebijakan Pemkot yang tidak pro terhadap ekonomi kerakyatan.

Sementara surat kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar, dimaksudkan agar sebagai pimpinan tertinggi Parpol dimana dr HM Basyir Ahmad juga ada di dalamnya, bisa melakukan pembinaan terhadap kadernya yang justru mempunyai sikap yang bertolak belakang dengan visi ekonomi kerakyatan yang selama ini digembar-gemborkan ARB.

“Karena secara kelembagaan ARB jelas mendukung ekonomi kerakyatan. Yang kami minta adalah komitmen ARB kepada jajaran atau pengurus yang ada di bawahnya yang tidak berpihak pada pegiat ekonomi kerakyatan. Harapannya Bapak ARB juga bisa memberikan teguran, kepada pemangku kebijakan disini,” bebernya lagi.

Sementara mengenai upaya relokasi yang sejauh ini masih terus diupayakan Pemkot Pekalongan, Arifianto dengan tegas tetap akan menolak untuk pindah, dan akan bertahan membuka pasar tiban di lokasi semula. Pasalnya menurut Arifianto, Pemkot sama sekali tak menerapkan asas keadilan dalam mengaplikasikan undang-undang maupun peraturan yang dijadikan dasar relokasi pasar tiban.

Arifianto memberi contoh, di jalan Teratai saat ini banyak PK5 bermunculan, dan menggunakan bahu jalan untuk berjualan justru setelah pasar tiban dipindah. “Kita lihat banyak Pk5 muncul dan berjualan di bahu jalan tapi dibiarkan saja. Kami ingin perjuangkan keadilan disini,” ujarnya.

Marzuki (39), salah seorang pengendara sepeda motor yang ikut membubuhkan tanda tangannya mengaku mendukung keberadaan pasar tiban. Menurutnya, selain memudahkan masyarakat dalam mencari barang yang dibutuhkan, pasar tiban juga menjadi hiburan tersendiri. “Kalau masalah macet kan hanya seminggu sekali. Jadi tidak masalah sebetulnya,” tutur Marzuki yang mengaku warga Sampangan. (nul)

 

Tidak ada komentar: