Kamis, 28 Maret 2013

Prihatin dengan sikap suporter

Mahasiswa Pekalongan Dikeroyok Suporter Semarang
*) Gara-Gara Pakai Motor Plat G
*) Terjadi Pasca Laga PSIS vs Persiku

PEKALONGAN – Amir Syamsudin (20), mahasiswa semester IV IKIP PGRI Semarang, menjadi korban pengereroyokan yang diduga dilakukan oleh sebuah kelompok suporter PSIS di Semarang, Senin (25/3) malam. Akibatnya, warga Gembong Gg Beringin 3, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, itu mengalami luka serius di bagian kepala, sehingga harus menjalani 21 jahitan dan saat ini masih dirawat di kamar no 2-1 ruang Wijayakusuma RSUD Kraton.

Kakak korban, Ahmad Mahrus (24), menuturkan bahwa kekerasan yang dialami adiknya itu terjadi sesaat setelah ada pertandingan antara PSIS Semarang melawan Persiku Kudus yang berlangsung di Stadion Jatidiri Semarang, Senin (25/3) petang. Aksi penganiayaan dan pengeroyokan terjadi selepas Maghrib.

Mahrus menyatakan, dirinya mendapat keterangan mengenai kronologi peristiwa itu dari korban dan temannya. Bahkan, teman korban yang juga sesama mahasiswa IKIP PGRI asal Capgawen, Kedungwuni, bernama Fahmi Arsyad, itu ikut jadi korban pengeroyokan. “Dia melihat langsung pengeroyokan yang dialami adik saya. Bahkan dia ikut jadi korban, tapi berhasil menyelamatkan diri,” ujarnya tadi malam.

Ia mengungkapkan, kejadian bermula saat Amir bersama Fahmi berboncengan naik motor Yamaha Mio milik teman kos mereka dari Tegal. Mereka berdua hendak mencari makan di warung dekat kampus IKIP PGRI untuk berbuka puasa. “Karena saat itu adik saya sedang berpuasa. Dia memang biasa puasa Senin Kamis,” imbuhnya. “Dan lagi, adik saya sebenarnya tidak tahu menahu tentang pertandingan bola. Dia tidak pernah ikut-ikutan nonton pertandingan sepakbola, atau menjadi anggota suporter,” sambung Mahrus.

Sesampainya di sekitar Jalan Dr Cipto dan Jalan Kartini, Semarang, tiba-tiba korban dipepet dari belakang oleh dua pengendara motor. Kedua pemuda yang memepet itu memakai atribut kelompok suporter PSIS Semarang. Sambil memepet korban, pelaku berteriak kepada korban, “Raimu wong Pekalongan, yo!” tutur Mahrus, menirukan suara para pelaku.

Korban dan temannya, serta kedua pemuda Semarang tadi kemudian sama-sama berhenti. Suporter Semarang tadi, langsung mengajak Amir dan Fahmi berkelahi. “Mereka katanya langsung mencopot gesper dan memukulkannya ke kepala adik saya,” ungkapnya.

Beberapa saat berikutnya, tiba-tiba datang puluhan suporter PSIS Semarang yang juga mengendarai sepeda motor, ikut mengeroyok korban. Para pengeroyok itu sebagian besar mengenakan kaos warna hitam dan sebagian lagi biru tua, bertuliskan “Snex”. Amir dan Fahmi berusaha lari. Tetapi dikejar oleh sedikitnya delapan orang. “Sebagian dari mereka katanya membawa senjata tajam,” imbuhnya.

Amir pun tak bisa lari lagi. Sehingga, langsung dikeroyok puluhan suporter itu. Sedangkan rekan korban, Fahmi, sempat menerima beberapa pukulan. Namun kemudian berhasil lari menyelamatkan diri.

Menurut Mahrus, Fahmi dari kejauhan hanya bisa melihat Amir Syamsudin menjadi bulan-bulanan suporter Semarang. Ia hanya bisa menangis sambil bersembunyi melihat sahabatnya dipukuli dan diinjak-injak. Padahal saat itu korban sudah jatuh pingsan. “Saat itu, sebenarnya banyak orang yang melihatnya. Tapi mereka tidak berani berbuat apa-apa,” ungkapnya sedih.

Sementara, sepeda motor Yamaha Mio yang dipakai korban, juga menjadi sasaran kemarahan para pelaku. Motor tersebut selanjutnya diceburkan ke sungai di dekat lokasi kejadian.

Hingga kemudian, sejumlah anggota polisi Semarang datang ke lokasi. Para suporter pengeroyok tadi, berhamburan membubarkan diri. Amir dilarikan ke Rumah Sakit Panti Wilasa di Jalan Dr Cipto. Karena menderita beberapa luka sobek dan luka akibat pukulan benda keras di kepala. Pada bagian punggung juga memar. Sedangkan Fahmi menderita luka memar di tangan. “Adik saya (Amir) menderita luka di empat tempat pada bagian depan dan belakang kepala. Dia harus mendapat 21 jahitan,” beber Mahrus.

Selanjutnya, pihak RS Panti Wilasa Semarang merujuk Amir Syamsudin ke RSUD Kraton. Korban tiba di RSUD Kraton pada hari Selasa (26/3) kemarin pukul 16.00. Setelah mendapat perawatan di IGD, korban dipindah ke ruang Wijayakusuma.

Pada saat Radar Pekalongan mengecek kondisi korban, terlihat bahwa korban masih lemah. Ia belum bisa diajak berkomunikasi dengan lancar. “Sesekali dia tersadar dan bisa diajak ngomong. Tapi masih lemes. Dia juga belum bisa bangun dari tempat tidur,” imbuh kakak korban.

Lebih lanjut, Mahrus mengharapkan agar pihak terkait di Pekalongan, khususnya manajemen Persip, Walikota, maupun suporter Persip Pekalongan, untuk meminta pihak berwenang di Semarang maupun manajemen PSIS agar meminta suporter Semarang untuk tidak anarkis. Juga, berharap agar keamanan warga Pekalongan di Kota Atlas tetap bisa terjamin.

“Harapannya supaya yang seperti ini tidak terjadi lagi. Kasihan warga Pekalongan yang di Semarang, apakah itu mahasiswa atau yang bekerja di sana. Harus ada jaminan keamanan di sana supaya tetap merasa aman,” harapnya.

Sementara itu, Walikota Pekalongan, yang juga Presiden Direktur PT Persip Pekalongan Raya, dr HM Basyir Ahmad, mengaku prihatin dengan kejadian itu. Ia akan menindaklanjuti kejadian itu, meskipun korban adalah warga Kabupaten Pekalongan. “Segera akan kita tindaklanjuti. Saya akan ngomong ke pengurus suporter Semarang agar kejadian ini tidak terulang lagi,” ujarnya. Meski begitu, Walikota meminta supaya warga Pekalongan, khususnya suporter Persip, tidak melakukan aksi balasan.

Diduga, aksi penganiayaan yang dialami warga Pekalongan di Semarang, merupakan buntut dari adanya kericuhan di Kota Pekalongan pasca laga Persip melawan PSIS beberapa waktu lalu. (way)

 

Tidak ada komentar: